Guru dan Supervisi 

Published 6 Mei 2012 by bebekoneng

GURU DAN SUPERVISI
MAKALAH
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
“Idarot Fashl”

Dosen Pengampu :
Ali Musthofa, S.Ag, M.Pd
Oleh:
Edi Ichwanun Muslim (D02210010)
M. Nurul Huda (D02210017)
M. Aniq Kemal F. (D022210039)
Siti Nur’aini (D32210060)

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
FAKULTAS TARBIYAH
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA ARAB
SURABAYA
2012

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kehadiran Pengawas atau Kepala Sekolah merupakan suatu hal yang ditakuti oleh para guru. Karena guru merasa jika dirinya belum bisa menguasi seluruh kinerjanya secara maksimal. Di sisi lain, Kepala Sekolah atau Pengawas pun kadang juga merasa canggung jika melakukan sebuah supervisi atau pengwasan.
Hal itu dikarenakan Pengawas atau Kepala Sekolah merasa sungkan, dan belum begitu paham akan tugasnya. Semua itu terjadi karena mereka belum begitu paham akan kinerjanya masing-masing. Sehingga rasa gelisah dan takut selalu mengahantui mereka. Oleh karena itu perlu adanya suatu hubungan antara Guru dan Supervisi, agar proses belajar mengajar di Sekolah berjalan secara efektif dan efisien untuk mencapai sebuah tujuan, visi dan misi sekolah.
B. Tujuan
1. Untuk mengetahu pengertian Supervisi.
2. Untuk mengetahu tujuan dan sasaran Supervisi.
3. Untuk mengetahu fungsi Supervisi.
4. Untuk mengetahu tipe-tipe Supervisi.
5. Untuk mengetahu pola supervise.
6. Untuk mengetahu teknik-teknik Supervisi.
7. Untuk mengetahu problem dalam Supervisi.
8. Untuk mengetahu hubungan antara Guru dan Supervisi.

BABI II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Supervisi
Supervisi secara etimologi berasal dari kata super dan visi yang mengandung arti melihat dan meninjau dari atas atau menilik dan menilai dari atas yang dilakukan oleh pihak atasan terhadap aktifitas, kreativitas, dan kinerja bawahan. Terdapat beberapa istilah yang hampir sama dengan supervisi, bahkan dalam pelaksanaannya istilah-istilah tersebut sering digunakan secara bergantian. Istilah-istilah tersebut antara lain: pengawasan, pemeriksaan, dan inspeksi. Pengawasan mengandung arti suatu kegiatan untuk melakukan pengamatan agar pekerjaan yang dilakukan sesuai dengan ketentuan. Pemeriksaan dimaksudkan untuk melihat bagaimana kegiatan yang dilaksanakan telah mencapai tujuan. Inspeksi dimaksudkan untuk mengetahui kekurangan-kekurangan atau kesalahan yang perlu diperbaiki dalam suatu pekerjaan.
Istilah “supervisi” baru muncul kurang lebih dua dasawarsa terakhir ini. Dahulu istilah yang banyak di gunakan di sekolah adalah “pengawasan”, “penilikan” atau “pemeriksaan”. Kegiatan supervisi melengkapi fungsi-fungsi administrasi yang ada di sekolah sebagai fungsi terakhir, yaitu penilaian semua kegiatan dalam pencapaian tujuan. Dahulu kegiatan pengawasan ini juga disebut dengan istilah “inspeksi” karena memang tujuannya demikian, yaitu mengawasi, mencari kekurangan atau kesalahan orang-orang dalam melaksanakan pekerjaanya.
Keempat istilah yang telah disebutkan, yaitu pengawasan, penilikan, pemeriksaan dan inspeksi, maknanya hampir sama, tetapi hanya tekananya saja yang berbeda. “Pengawasan” mengandung arti “melakukan pengamatan agar pekerjaan yang dilakukan tidak menyimpang dari apa yang telah di tentukan. “Penilikan” hampir sama dengan “pemerikasaan”, yaitu melihat suatu kegiatan agar di ketahui sejauh mana kegiatan yang di periksa tersebut telah mencapai tujuan. “Inspeksi” mengandung arti pemeriksaan, melihat untuk mengetahui adanya kekurangan dan kesalahan. Dengan penggunaan istilah-istilah tersebut, maka pelakunya di beri nama “pengawas”, “penilik”, atau “inspektor”, dan tidak pernah ada sebutan “pemeriksa”.
“Supervisi” merupakan istilah baru yang menunjuk pada suatu pekerjaan pengawasan tetapi sifatnya lebih “human, manusiawi”. Di dalam kegiatan supervisi, pelaksana bukan mencari-cari kesalahan atau kekurangan, tetapi lebih banyak mengandung unsur pembinaan, agara pekerjaan yang di supervisi diketahui kekurangannya (bukan semata-mata kesalahannya!), untuk dapat diberi tahu bagaimana cara meningkatkannya. Pembinaan ini di lakukan lebih baik jika mengikutsertakan orang yang dibina yaitu membicarakan bersama kekurangannya, (kalau yang di supervisi sudah cukup dewasa, maka ia diminta untuk mencoba untuk melakukan pengamatan terhadap dirinya sendiri, apa kekurangan dari yang dilakukan), dilanjutkan dengan membicarakan bersama bagaimana mengatasi kekurangan tersebut. Supervisi ini penting sekali di dalam kegiatan sekolah karena kegiatan sekolah merupakan kegiatan penting dan mengikuti prinsip-prinsip administrasi mengarah kepada pencapaian tujuan, yaitu pembentukan manusia sebagai pribadi dan sebagai individu.
Supervisi adalah segala bantuan dari pemimpin sekolah, yang bertujuan kepada perkembangan-perkembangan kepimpinan guru-guru dan personel sekolah lainnya di dalam mencapai tujuan-tujuan pendidikan. Ia beruapa dorongan,bimbingan, dan kesempatan bagi pertumbuhan keahlian dan kecakapan guru-guru, seperti bimbingan dalam usaha dan pelaksanaan pembaharuan-pembaharuan dalam pendidikan dan pengajaran, pemilihan alat-alat pelajaran dan metode-metode mengajar yang lebih baik, cara-cara penilaian yang sistematis terhadap fase seluruh proses pengajaran,dan sebagainya. Dengan kata lain: Supervisi adalah suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah lainnya dalam melakukan pekerjaan mereka secara efektif.
Pengembangan model supervisi yang di dasarkan atas teori dan praktek untuk meningkatkan mutu pengajaran tersebut dilandasi oleh beberapa asumsi sebagai berikut:
1. Yang dapat meningkatkan kualitas pengajaran tidak ada orang lain kecuali guru-guru itu sendiri.
2. Guru-guru semestinya diberi kebebasan untuk meningkatkan kualitas mengajar mereka sendiri sesuai dengan keunikannya.
3. Setiap perubahan di dalam tingkah laku mengajar memerlukan dorongan atau dukungan social sebagai stimulasi professional dan intelektual.
4. Dengan pola supervisi yang tradisional nampaknya kualitas pengajaran sukar dicapai peningkatannya.
5. Peningkatan kualitas pengajaran nampaknya akan lebih tinggi keberhasilannya apabila digunakan pendekatan yang tidak mencekam, dengan situasi yang menyenangkan, santai, yaitu dengan perlakuan yang bersifat kekeluargaan. Peningkatan dalam situasi kebapakan, bukan sebagai atasan, akan mencapai hasil lebih efektif.
Orang yang melakukan supervisi disebut supervisor. Dibidang pendidikan disebut supervisor pendidikan. Menurut keputusan menteri pendidikan dan kebudayaan nomor 0134/0/1977, temasuk kategori supervisor dalam pendidikan adalah kepala sekolah, penelik sekolah, dan para pengawas ditingkatkan kabupaten/kotamadya, serta staf di kantor bidang yang ada di tiap provinsi.
Jadi, Supervisi adalah kegiatan pengawasan yang sifatnya lebih human, manusiawi. Yaitu kegiatan yang bukan mencari-cari kesalahan tetapi kegiatan yang lebih banyak mengandung unsur pembinnaan, agar kondisi pekerjaan yang sedang disupervisi dapat diketahui kekurangannya (bukan semata-mata kesalahannya) untuk dapat diberitahu bagian yang perlu diperbaiki. Supervisi dilakukan untuk melihat bagian mana dari kegiatan sekolah yangg masih negatif untuk diupayakan menjadi positif, dan melihat mana yang sudah positif untuk ditingkatkan menjadi lebih positif lagi dan yang terpenting adalah pembinaannya.
B. Tujuan dan Sasaran Supervisi
Secara umum tujuan supervisi adalah mengembangkan dan mencapai proses belajar mengajar yang relevan, dan efektif melalui peningkatan kemampuan guru. Penyusunan program pengajaran dan penyampaian pengajaran pada siswa.
Secara khusus bertujuan untuk mengahsilkan berbagai program kurikuler, antara lain:
1. Program pengajaran, yang meliputi susunan tujuan instruksional dan tujuan instruksional khusus, susunan materi dan kegiatan pembelajaran, alat dan saran penunjang pembelajaran, cara penyampaian dan instrument pengukuran dan penilaian.
2. Pembinaan kemampuan professional guru secara berencana, efektif dan terus menerus, yang diselenggarakan dalam bentuk pertemuan secara berkala, bahan bacaan dan penataran dan sebagainya.
3. Program khusus yang berguna untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar.
Sasaran Supervisi Ditinjau dari objek yang disupervisi, ada 3 macam bentuk supervisi:
1. Supervisi Akademik
Menitikberatkan pengamatan supervisor pada masalah-masalah akademik, yaitu hal-hal yang berlangsung berada dalam lingkungan kegiatan pembelajaran pada waktu siswa sedang dalam proses mempelajari sesuat
2. Supervisi Administrasi
Menitikberatkan pengamatan supervisor pada aspek-aspek administrasi yang berfungsi sebagai pendukung dan pelancar terlaksananya pembelajaran.
3. Supervisi Lembaga
Menyebarkan objek pengamatan supervisor pada aspek-aspek yang berada di sekolah. Supervisi ini dimaksudkan untuk meningkatkan nama baik sekolah atau kinerja sekolah secara keseluruhan. Misalnya: Ruang UKS (Unit Kesehatan Sekolah), Perpustakaan dan lain-lain.
C. Fungsi Supervisi
Supervisi memiliki fungsi, sebagai berikut:
1. Pembinaan kepemimpinan kepala sekolah guna meningkatkan tanggung jawab untuk meniptakan hubungan yang harmonis sesama guru dan tenaga lainnya, membina sifat-sifat kepemimpinan dan memupuk tanggung jawab pada diri guru-guru, melaksanakan pengelolaan proses belajar mengajar, melakasanakan pengawasan dan disiplin guru, menempatkan dan memberikan penghargaan kepada guru dan tenaga teknis lainnya.
2. Pembinaan dan peningkatan kemampuan guru dalam proses belajar mengajar dan pengelolaan sekolah secara umum.
3. Membina kemampuan professional guru melalui berbagai kegiatan, antara lain: penayelenggaraan berbagai kegiatan peningkatan profesi ialah pentaran, rapat kerja, loka karya dan seminar,dan pertemuan kelompok atau individual. Selain itu, melaksanakan pengadaan sarana atau fasilitas penunjang seperti: fasilitas kerja, kepustakaan dan bahan-bahan bacaan.
4. Pengawasaan, dimaksudkan untuk meningkatkan pengelolaan pendidikan secara menyeluruh, yang berkaitan dengan bidang-bidang pengajaran, kesiswaan, ketenagaan, sarana dan prasarana, pembiayaan, dan pengabdian masyarakat.

D. Tipe-tipe Supervisi
1. Tipe Inspeksi
Tipe seperti ini biasanya terjadi dalam administrasi dan model kepemimpinan yang otokratis, mengutamakan pada upaya mencari kesalahan orang lain, bertindak sebagai “Inspektur” yang bertugas mengawasi pekerjaan guru. Supervisi ini dijalankan terutama untuk mengawasi, meneliti dan mencermati apakah guru dan petugas di sekolah sudah melaksanakan seluruh tugas yang diperintahkan serta ditentukan oleh atasannya.
2. Tipe Laisses Faire
Tipe ini kebalikan dari tipe sebelumnya. Kalau dalam supervisi inspeksi bawahan diawasi secara ketat dan harus menurut perintah atasan, pada supervisi Laisses Faire para pegawai dibiarkan saja bekerja sekehendaknya tanpa diberi petunjuk yang benar. Misalnya: guru boleh mengajar sebagaimana yang mereka inginkan baik pengembangan materi, pemilihan metode ataupun alat pelajaran.
3. Tipe Coersive
Tipe ini tidak jauh berbeda dengan tipe inspeksi. Sifatnya memaksakan kehendaknya. Apa yang diperkirakannya sebagai sesuatu yang baik, meskipun tidak cocok dengan kondisi atau kemampuan pihak yang disupervisi tetap saja dipaksakan berlakunya. Guru sama sekali tidak diberi kesempatan untuk bertanya mengapa harus demikian. Supervisi ini mungkin masih bisa diterapkan secara tepat untuk hal-hal yang bersifat awal. Contoh supervisi yang dilakukan kepada guru yang baru mulai mengajar. Dalam keadaan demikian, apabila supervisor tidak bertindak tegas, yang disupervisi mungkin menjadi ragu-ragu dan bahkan kehilangan arah yang pasti.

4. Tipe Training dan Guidance
Tipe ini diartikan sebagai memberikan latihan dan bimbingan. Hal yang positif dari supervisi ini yaitu guru dan staf tata usaha selalu mendapatkan latihan dan bimbingan dari kepala sekolah. Sedangkan dari sisi negatifnya kurang adanya kepercayaan pada guru dan karyawan bahwa mereka mampu mengembangkan diri tanpa selalu diawasi, dilatih dan dibimbing oleh atasannya.
5. Tipe Demokratis
Selain kepemimpinan yang bersifat demokratis, tipe ini juga memerlukan kondisi dan situasi yang khusus. Tanggung jawab bukan hanya seorang pemimpin saja yang memegangnya, tetapi didistribusikan atau didelegasikan kepada para anggota atau warga sekolah sesuai dengan kemampuan dan keahlian masing-masing.

E. Pola Supervisi
Kegiatan supervisi dititik beratkan pada perbaikan mutu kegiatan belajar-mengajar di kelas, namun kesuksesan pekerjaannya secara tidak langsung sangat berhubungan dengan lingkungan sekolah. Perlu difahami dan diyakini bahwa tujuan kegiatan supervisi bukanlah individu guru yang disupervisi, tetapi meningkatkan efektivitas pengajaran untuk lebih jauh berakibat pada peningkatan hasil belajar murid. Jadi yang dituju bukan murid, bukan guru, tetapi lingkungan belajar.
Supervisi adalah suatu bentuk tindakan terhadap guru yang sedang dalam proses interaksi dengan murid. Dengan demikian supervisi adalah suatu bentuk “interverensi”. Kegiatan supervisi masuk ke dalam jalinan interaksi guru dengan murid di dalam kegiatan belajar-mengajar.
Agar interverisnya dapat berjalan dengan efektif maka kegiatan supervisi tersebut harus dilakukan melalui tahp-tahap diagnosis seperti tahap-tahp yang dilalui dalam proses pemecahan masalahpada umunya. Tahap-tahap tersebut adalah:
1. Identifikasi masalah yaitu mengidentifikasi celah antara keadaan yang sekarang ada dengan keadaan yang diharapkan.
2. Diagnosis penyebab (diagnose cause), yaitu penelitian mengenai kemungkinan sebab-sebab timbulnya masalah dengan cara menguji faktor-faktor penghambat (kendala) maupun faktor-faktor penunjang.
3. Mengembangkan rencana kegiatan, yaitu mengembangkan strategi untuk bertindak dengan secara rinci menelaah setiap alternative yang ada, mengantisipasikan akibat-akibat yang mungkin timbul, mempertimbangkan, untuk kemudian memilih salah-satu untuk dilaksanakan.
4. Melaksanakan kegiatan yang telah direncanakan dengan menaerjemahkan setiap langkah perencanaan dengan prosedur yang khusus.
5. Mengevaluasikan rencana kegiatan, yaitu melihat kembali keterlaksanaan, dan lain-lain yang perlu dipertimbangkan di dalam pelaksanaan nanti.
F. Teknik-teknik Supervisi
Evan dan Neagly (1980) menyebutkan teknik supervisi terdiri dari; individual techniques (teknik perorangan) dan group techniques (teknik kelompok). Individual techniques terdiri atas; assignment of teachers, classroom visitation and observation, classroom experimentation, colleges course, conference (individual), demonstration teaching, evaluation, proffesional reading, professional writing, supervisory bulletins, informal contacts. Sedangkan yang termasuk teknik kelompok (group techniques) diantaranya adalah; orientation of new teacher, development of professional libraries, visiting other teachers, coordinating of student teacing.
1. Teknik perseorangan
1) Mengadakan kunjungan kelas (Classroom visitation) Yang dimaksud adalah kunjungan yang dilakukan untuk melihat guru yang sedang mengajar atau ketika kelas sedang kosong.
2) Mengadakan observasi kelas (Classroom Observation) Kunjungan ke sebuah kelas untuk mencermati situasi/peristiwa yang sedang berlangsung di dalam kelas.
3) Saling kunjung mengunjungi (intervisitation)
a. Seorang guru mengunjungi rekannya yang lain yang sedang mengajar untuk menambah pengalaman
b. Seorang atau beberapa guru mengikuti rekan yang lain yang sedang memberi pelajaran contoh
4) Percakapan pribadi (individual conference)
a. Mengembangkan segi-segi positif dari kegiatan guru
b. Mendorong guru mengatasi kelemahan dalam mengajar
c. Mengurangi keragu-raguan guru dalam menghadapi masalah-masalah pada waktu mengajar
5) Menilai diri sendiri (Self evalution Check list)
2. Teknik kelompok
1) Mengadakan petemuan (meeting). Dalam kegiatan ini supervisor dapat memberikan pengarahan (directing),pengkondisian (coordinating) dan menkomunikasikan (communicating) segala onformasi guru atau staf.
2) Mengadakan diskusi kelompok (group discusion)
3) Mengadakan penataran (in service training)
4) Seminar
G. Problem Supervisi
1. Masalah-masalah yang dihadapai supervisi pendidikan
1) Perbedaan konsep inspeksi dan supervisi pendidikan
2) pebedaan fungsi
a. Inspeksi merupakan suatu jabatan (position) dalam suatu jawatan
b. Supervisi merupakan suatu fungsi (funcition) untuk membina perbaikan suatu situasi
3) Perbedaan prinsip
a. Inpeksi dilaksanakan berdasarkan prinsip otokrasi atau pengawas
b. Supersvisi dilaksanakan berdasarkan prinsip demokrasi yang dijiwai oleh fasafah pancasila
4) Pebedaan interpretasi terminologis
5) Pebedaan aktualisasi fungsi sebagai administrator dan supervisor pendidikan
a. Administrator berfungsi mengatur agar segala sesuatu berjalan dengan baik
b. Supervisor berfungsi membina agar sesuatu itu berjalan secara lebih baik dan lebih lancar lagi(meningkatkan mutu) dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan
6) Perbedaan konsepsional tentang kepemimpinan dan kekuasaan kekuatan (mendapat yang diberikan tidak disertai wewenang bertindak, sehingga bukan hanya sulit, ia jugatidak tau apa yang menjadi wewenangnya.
2. Masalah-masalah yang dihadapi supervisor
1) Masalah dan proporsinya
Kadang-kadang sesuatu hal tidak dianggap suatu problem, karena hanya merupakan sebab timbulnyasuatu problem
2) Masalah praktis
a. Masalah-maslah kepemimpinan (leadership)
b. Masalah-masalah proses kelompok (group proses)
c. Masalah-masalah hubungan insani (human relation)
d. Masalah-masalah administrasi personal
e. Masalah-masalah penilaian (evaluation)
3. Respon terhadap masalah-masalah supervisi
1) Berpedomankan prinsip
Yaitu prinsip pendidikan dan prinsip-prinsip supervisi pendidikan, baik yang fundamental maupun yang praktis.
2) Bekerja sistematis
a. Mengumpulkan data yang merupakan masalah.
b. Mengumpulkan sebab.
c. Memilih dan mengkalsifikasikan sebab-sebab yang dapat dianggap berlaku pada sebuah persolan.
d. Mampertimbangkan dan membandingkan sebab.
e. Manyimpulkan dan meninjau segala kemungkinan yang dapat meniadakan sebab timbulnya masalah.
f. Menyusun tahap-tahap penyelesaian data.
3) Berkepribadian
Kepribadian yang telah terintegrasi yan sanggup mengambil keputusan dengan penuh rasa tanggung jawab,akan lebih memudahkan dan mengefektifkan pemecahan-pemecahan masalah hidup.
H. Guru dan Supervisi
Semua kemampuan guru mendapat perhatian dari supervisor (penilik atau pengawas), namun beberapa diantaranya khususnya yang bertalian dengan pelaksanaan kurikulum, yang perlu mendapat perhatian dengan seksama, yakni kemampuan-kemampuan, yaitu:
1. Kemampuan melaksanakan kurikulum, yang berkenan dengan pelaksanaan proses belajar-mengajar.
2. Kemampuan memilih dan menggunakan material kurikulum, khususnya yang berkenaan dengan media instruksional dan bahan-bahan belajar.
3. Kemampuan memberikan pelayanan terhadap perbedaan individual siswa dengan memperhatikan perilaku awal, kemampuan,bakat dan minat sebagainya.
4. Kemampuan melaksankan kegiatan extra kurikuler, yang tentunya mencakup juga kegiatan ko kurikuler.
5. Kemampuan memecahkan masalah-masalah khusus, misalnya disiplin dan masalah social lainnya.
Kemapuan-kemapuan tersebut menjadikan sebuah tugas bagi supervisor karena setiap supervisor kurikulum paling tidak bertanggung jawab melakukan kegiatannya membantu guru-guru untuk mengembangkan kemapuan-kemampuan tersebut. Pengertian “membantu” prinsipnya membimbing, mengarahkan,memotivasi, dan menasehati; namun guru sendiri diharapkan lebih aktif untuk memperbaiki kemampuannya sampai titik optimal. Hal tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Membantu guru mengembangkan kemampuan melaksanakan kurikulum.
1) Menyusun unit pengajaran.
2) Menyusun rencana kerja.
3) Membuat satuan pelajaran.
4) Melaksanakan proses belajar mengajar.
5) Menyusun dan melaksanakan penilaian.
2. Membantu guru mengembangkan kemampuan memilih dan menggunakan material kurikulum.
3. Membantu guru mengembangkan kemampuan melayani perbedaan individual siswa.
4. Membantu guru mengembangkan kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah khusus.

BAB III
PENUTUP


Kesimpulan :
1. Supervisi adalah kegiatan pengawasan yang sifatnya lebih human, manusiawi. Yaitu kegiatan yang bukan mencari-cari kesalahan tetapi kegiatan yang lebih banyak mengandung unsur pembinnaan, agar kondisi pekerjaan yang sedang disupervisi dapat diketahui kekurangannya (bukan semata-mata kesalahannya) untuk dapat diberitahu bagian yang perlu diperbaiki.
2. Tujuan dan Sasaran Supervisi
Tujuan umum supervisi adalah mengembangkan dan mencapai proses belajar mengajar yang relevan, dan efektif melalui peningkatan kemampuan guru. Penyusunan program pengajaran dan penyampaian pengajaran pada siswa.
Tujuan khusus supervisi untuk mengahsilkan berbagai program kurikuler, antara lain Program pengajaran, Pembinaan kemampuan professional guru secara berencana, efektif dan terus menerus dan Program khusus yang berguna.
Sasaran Supervisi: Supervisi Akademik, Supervisi Administrasi,dan Supervisi Lembaga.
3. Fungsi Supervisi adalah :
1. Pembinaan kepemimpinan kepala sekolah.
2. Pembinaan dan peningkatan kemampuan guru dalam proses belajar mengajar dan pengelolaan sekolah secara umum.
3. Membina kemampuan professional guru melalui berbagai kegiatan.
4. Kepengawasaan, untuk meningkatkan pengelolaan pendidikan secara menyeluruh.
4. Tipe-tipe Supervisi yaitu Tipe Inspeksi, Tipe Laisses Faire, Tipe Coersive, Tipe Training dan Guidance,dan Tipe Demokratis
5. Pola Supervisi adalah Identifikasi masalah, diagnosis penyebab (diagnose cause), mengembangkan rencana kegiatan, melaksanakan kegiatan yang telah direncanakan, dan mengevaluasikan rencana kegiatan.
1. Tekni Supervisi adalah
1. Teknik perseorangan
1) Mengadakan kunjungan kelas (Classroom visitation)
2) Mengadakan observasi kelas (Classroom Observation)
3) Saling mengunjungi (Intervissi tation)
4) Percakapan Pribadi ( Individual Confernce)
5) Menilai diri sendiri (Self evalution Check ist).
2. Teknik kelompok
1) Mengadakan petemuan (meeting).
2) Mengadakan diskusi kelompok (group discusion)
3) Mengadakan penataran (in service training)
4) Seminar
2. Problem Supervisi
1. Masalah-masalah yang dihadapai supervisi pendidikan yaitu Perbedaan konsep inspeksi dan supervisi pendidikan, Pebedaan fungsi, Perbedaan prinsip, Pebedaan interpretasi terminologis, Pebedaan aktualisasi fungsi dan Perbedaan konsepsional tentang kepemimpinan dan kekuasaan.
2. Masalah-masalah yang dihadapi supervisor
1) Masalah dan proporsinya
2) Masalah praktis
3. Respon terhadap masalah-masalah supervisi dengan cara berpedomankan prinsip, bekerja sistematis dan berkepribadian
3. Guru dan Supervisi
Semua kemampuan guru mendapat perhatian dari supervisor (penilik atau pengawas), namun beberapa diantaranya khususnya yang bertalian dengan pelaksanaan kurikulum, perlu mendapatkan perhatian dengan seksama. Kemapuan-kemapuan tersebut menjadikan sebuah tugas bagi supervisor karena setiap supervisor kurikulum paling tidak bertanggung jawab melakukan kegiatannya membantu guru-guru untuk mengembangkan kemapuan-kemampuan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Soemanto Wasty,Drs., Sotopo Hendyat,Drs., Pembinaan dan Pengembangan kurikulum, PT.Bumi Aksara, Jakarta, 1993

Arikunto,Suharsimi, Organisasi dan Administrasi, PT.Raja Grafindo Persada, Jakarta,1993

Purwanto,M.Ngalim,Drs.,MP, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, PT. Remaja Rosdakarya, , Bandung, 1998

Hamalik Oemar,Prof.,Dr., Manajemen Pengembangan Kurikulum, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung , 2006

Mulyasa,E,DR.,M.Pd, Manajemen Berbasis Sekolah,PT Remaja Rosdakarya,Bandung, 2002

Suryo Subroto, Dimensi dimensi Administrasi, Bina Aksara, Jakarta, 1998

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: